Inventions for Better Future – Research Camp Jilid VI SMA Kebon Dalem

Inventions for Better Future – Research Camp Jilid VI SMA Kebon Dalem

SEMARANG, Jumat, 13 Oktober 2017. Terinspirasi atas tulisan yang tertorehkan di lantai salah satu pabrik otomotif di China, “Setiap pagi, di Afrika, seekor rusa terbangun dan ia harus lari lebih cepat dari singa yang paling lambat, atau ia akan dimangsa. Dan, setiap pagi, di tempat yang sama, seekor singa bangun, dan ia harus lari lebih cepat dari rusa yang paling lambat atau ia akan kelaparan. Tidaklah penting apakah kita ini ibarat seperti rusa atau singa, yang jelas, saat matahari mulai terbit, kita harus segera berlari…” Berefleksi dari pesan inspiratif tersebut, maka senyatanya ajang Research camp Jilid VI merupakan ajang ajakan bagi civitas akademika SMA Kebon Dalem untuk “berlari” menyongsong era generasi emas. Generasi emas bukanlah generasi yang memiliki banyak emas. Melainkan, generasi yang mempunyai daya saing di era global. Melalui Research Camp, potensi daya saing ini dilatih dan ditumbuhkembangkan; seperti bagaimana menumbuhkan dan mengasah kepekaan indera dalam menangkap problematika dalam kehidupan keseharian, serta bagaimana upaya untuk menemukan solusinya. Lebih lanjut, akan menjadi lebih bermakna yakni bagaimana mengkomunikasikan hasil temuan dan solusi atas permasalahan kepada masyarakat guna meningkatkan kesejahteraan dan kualitas kehidupan. Yang jelas, kesemua kemampuan dan keterampilan tersebut, nantinya mutlak dibutuhkan bagi para genarasi muda bangsa yang hidup di era global saat ini. Salam prestasi untuk kehidupan yang lebih baik!...
Salam dan sapa Ibu Menteri untuk Peneliti Belia dari Kebon Dalem

Salam dan sapa Ibu Menteri untuk Peneliti Belia dari Kebon Dalem

SMA KEBON DALEM, Semarang  – Dalam rangka kunjungan kerja Presiden dan beberapa menteri ke Kota Semarang, 9 Oktober 2017 kemarin;  guna penyerahan Kartu Indonesia Pintar (KIP) dan  Program Keluarga Harapan (PKH); – adalah Sherina Laurencia Siswoko; pelajar putri kelas XI IPS SMA Kebon Dalem berkesempatan mendapatkan apresiasi dan penghargaan langsung dari Ibu Khofifah Indar Parawansa (Menteri Sosial) atas prestasinya sebagai Juara 2 Lomba Peneliti Belia Provinsi Jawa Tengah. Salam prestasi dari SMA Kebon dalem untuk generasi emas bangsa. Dan akhirnya, Sherina pun...
Research Camp Jilid VI

Research Camp Jilid VI

Research Camp Jilid VI Jumat, 13 Oktober 2017   Apa itu Research Camp? Secara sederhana dan ringkas, Research Camp (RC) dapat dipahami sebagai upaya sekolah memberikan wadah kepada peserta didik untuk mengaktualisasikan dan berbagi ilmu, pengetahuan, dan keterampilan sebagai hasil proses belajar mereka kepada orangtua dan masyarakat. Apa Tujuan dari Research Camp? Antara lain: Menyediakan sarana bagi siswa untuk menunjukkan hasil dari proses pembelajaran di sekolah; Mengembangkan kemampuan siswa untuk berfikir kritis dalam  pemecahan masalah dan melatih kerjasama; Meningkatkan ketrampilan dalam mengkomunikasikan ide – ide; Meningkatkan kepedulian dan kepekaan terhadap lingkungan sekitar. Apa Tema Research Camp tahun ini? Di Tahun Pelajaran 2017/2018, RC di SMA Kebon Dalem, mengusung tema “Inventions for Better Future”. Tema tersebut diangkat ke permukaan sebagai kajian utama dari project penelitian siswa karena saat ini dalam rangka menyongsong “Indonesia Emas” sebagai generasi muda bangsa, peserta didik perlu untuk mempersiapkan dan membekali diri dengan kemampuan untuk meneliti guna menemukan, menganalisis, mengolah dan memecahkan permasalahan guna masa depan diri dan bangsanya ke arah yang lebih baik. Ajang ini sekaligus merupakan bagian tak terpisahkan dari nilai/karakter kecerdasan yang dihidupi oleh warga sekolah (Environmental quotient). Bagaimana design pelaksanaan Research Camp? Aula sekolah akan dirancang menjadi camp-camp riset. Tahun ini ada 35 macam project penelitian siswa dari rumpun jurusan IPA, IPS, dan BAHASA. Tempat dan waktu pelaksanaan Tempat            : SMA Kebon Dalem,  Jl. Wotgandul Barat 31 Semarang. Telp: (024) 3515838 Hari/Tanggal   : Jumat, 13 Oktober 2017 Waktu             : 07.00 – 13.00 WIB Seputar aktivitas pendukung dalam Research Camp VI : Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) untuk Rumpun IPA, IPS, dan Bahasa Lomba Membaca Berita dalam Bahasa Indonesia dan dalam Bahasa Inggris...
Menangkal Ujaran Kebencian dan Hoaks

Menangkal Ujaran Kebencian dan Hoaks

Menangkal Ujaran Kebencian dan Hoaks Oleh : Thio Hok Lay, S.Si Kepala SMA Kebon Dalem, Semarang   Fenomena ujaran kebencian (hate speech) dan informasi bohong (hoaks) semakin jamak dijumpai dan semakin vulgar dipertontonkan melalui ragam media elektronik (televisi dan internet); bahkan sudah menjadi semacam komoditas yang diperjualbelikan. Menjadi sebuah lahan bisnis illegal model baru yang melanggar hukum dan moral, dengan para pelakunya yang melek tekhnologi namun pincang dalam hal karakter.  Contohnya adalah kelompok Saracen yang berhasil dibongkar dan anggotanya ditangkap oleh pihak kepolisian karena menawarkan dan menjual informasi bohong. Fenomena ini serasa menghentak kesadaran kita sebagai bangsa yang mengaku berbudaya, beradab, santun, dan ramah. Sudah tentu, yang namanya kebencian dan kebohongan sebagai bentuk sikap dan kebiasaan buruk perlu diwaspadai karena efek yang ditimbulkannya berpotensi untuk mencederai relasi dan keharmonisan antarpribadi, dalam area yang lebih luas, kebencian dan kebohongan berpotensi untuk mengoyak kerukunan dan kebersamaan kita dalam hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara yang berbhinneka. Mengingat tidak sedikitnya konflik yang berujung pada musibah kebangsaan bernuansa SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan) akibat dipicu oleh yang namanya ujaran kebencian dan hoaks. Dengan berdalih bahwa setiap insan di bumi pertiwi ini dinyatakan kebebasannya dan dijamin haknya untuk menyampaikan gagasan dan pendapat, telah disalahartikan seolah boleh saling cela, saling hujat dan saling merasa diri benar di setiap kali terjadi perbedaan pandangan dan pendapat. Lebih jauh, ujaran kebencian dan informasi bohong ini telah melintas dan mengiris secara generasional dan sosiologis. Artinya sudah melampaui batas usia (lintas generasi) dan status. Gejalanya nampak lewat lunturnya rasa hormat orang muda terhadap pihak yang lebih tua, dari kaum buruh ke majikan, dan dari bawahan ke pimpinan. Hukum emas Dalam...
Kemanusiaan yang Adil dan Beradab

Kemanusiaan yang Adil dan Beradab

Menjaga eksistensi sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab Umpatan yang paling sarkastik pun tak cukup untuk mengecam perbuatan 14 anak muda yang memperkosa dan membunuh gadis 14 tahun. Kemanusiaan pun robek. Peradaban diludahi. Hukum gagap dan gugup. Nilai-nilai kemanusiaan tak berarti apa – apa jika hanya membeku dalam simbolisme, baik dalam ideologi negara maupun kearifan budaya. Nilai-nilai kemanusiaan harus dirinci ke dalam sistem gagasan dan sistem perilaku yang memiliki kaki sehingga bisa mewujud menjadi realitas kehidupan. … (Kutipan dari opini “Kemanusiaan yang Robek”, oleh: Indra Tranggono; Pemerhati Kebudayaan dan Sastrawan @ Kompas, 17 Mei...
Bersahabat dengan plastik

Bersahabat dengan plastik

BILA habis makan buah nangka kupas, publik biasanya langsung membuang biji (beton) nya dan bersegera cuci tangan tuk menghilangkan getah (pulut) nya. Tidak demikian halnya dengan tiga dara dari SMA Kebon Dalem (Meli, Aulia, dan Josse – Kelas XI IPA). Dengan mengkombinasikannya dengan kulit pisang, di tangan mereka, perpaduan antara komposisi biji nangka dan kulit pisang menjelma menjadi film plastik biodegradable; materi plastik yang ramah lingkungan… (Bacalah ulasannya di media Wawasan, 11 Mei...