Menangkal Ujaran Kebencian dan Hoaks

Menangkal Ujaran Kebencian dan Hoaks

Menangkal Ujaran Kebencian dan Hoaks

Oleh : Thio Hok Lay, S.Si

Kepala SMA Kebon Dalem, Semarang

 

Fenomena ujaran kebencian (hate speech) dan informasi bohong (hoaks) semakin jamak dijumpai dan semakin vulgar dipertontonkan melalui ragam media elektronik (televisi dan internet); bahkan sudah menjadi semacam komoditas yang diperjualbelikan. Menjadi sebuah lahan bisnis illegal model baru yang melanggar hukum dan moral, dengan para pelakunya yang melek tekhnologi namun pincang dalam hal karakter.  Contohnya adalah kelompok Saracen yang berhasil dibongkar dan anggotanya ditangkap oleh pihak kepolisian karena menawarkan dan menjual informasi bohong.

Fenomena ini serasa menghentak kesadaran kita sebagai bangsa yang mengaku berbudaya, beradab, santun, dan ramah. Sudah tentu, yang namanya kebencian dan kebohongan sebagai bentuk sikap dan kebiasaan buruk perlu diwaspadai karena efek yang ditimbulkannya berpotensi untuk mencederai relasi dan keharmonisan antarpribadi, dalam area yang lebih luas, kebencian dan kebohongan berpotensi untuk mengoyak kerukunan dan kebersamaan kita dalam hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara yang berbhinneka. Mengingat tidak sedikitnya konflik yang berujung pada musibah kebangsaan bernuansa SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan) akibat dipicu oleh yang namanya ujaran kebencian dan hoaks.

Dengan berdalih bahwa setiap insan di bumi pertiwi ini dinyatakan kebebasannya dan dijamin haknya untuk menyampaikan gagasan dan pendapat, telah disalahartikan seolah boleh saling cela, saling hujat dan saling merasa diri benar di setiap kali terjadi perbedaan pandangan dan pendapat. Lebih jauh, ujaran kebencian dan informasi bohong ini telah melintas dan mengiris secara generasional dan sosiologis. Artinya sudah melampaui batas usia (lintas generasi) dan status. Gejalanya nampak lewat lunturnya rasa hormat orang muda terhadap pihak yang lebih tua, dari kaum buruh ke majikan, dan dari bawahan ke pimpinan.

Hukum emas

Dalam menghadirkan dan menempatkan dirinya, serta dalam berperan sebagai makhluk sosial (Homo homini socius), setiap kita sebagai bagian dari umat manusia, sejatinya diikat dan dipersatukan oleh prinsip aturan hukum emas yang menyatakan bahwa, “Kasihilah sesamamu manusia, seperti mengasihi dirimu sendiri; dan perlakukanlah sesamamu sebagaimana engkau ingin diperlakukan”. Jadi, jika kita mengaku mengasihi diri kita sendiri, maka kita berkewajiban dan dituntut untuk mau dan mampu mengekspresikan kasih yang ditujukan atas diri kita, kepada sesama kita. Jelasnya, jika tidak ingin dibenci, janganlah membenci. Jika kita tidak ingin dibohongi dan difitnah, janganlah membohongi dan memfitnah.

Jika demikian halnya, maka senyatanya ujaran kebencian dan informasi bohong merupakan bentuk perlawanan dan pengkhianatan atas hukum emas yang berlaku secara universal karena secara sadar dan sengaja, muatan dan tujuannya adalah untuk menginformasikan kabar bohong, menghina, melecehkan, bahkan merendahkan harkat dan martabat sesama manusia.

Padahal jika didekati dengan kerangka berpikir yang positif, maka kebhinnekaan kita sebagai bangsa dengan keberagaman suku, agama, ras dan antargolongan yang kita miliki; sejatinya merupakan sumber kekuatan dan modal (aset) bangsa. Bukankah bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu mengelola kemajemukan yang ada sebagai suatu sumber daya? Sebaliknya, jika tidak cerdas dan bijak dalam mengelola kemajemukan yang ada, maka kemajemukan yang semestinya merupakan anugerah, justru bisa berpotensi menjadi musibah.

Gemar membaca

Rahma Sugihartati dalam opininya berjudul “Komodifikasi Hoaks” (Kompas, 29 Agustus 2017) mengatakan bahwa kata kunci penting untuk mencegah agar hoaks tak mudah mempengaruhi masyarakat adalah melalui literasi informasi dan literasi kritis. Dan untuk menumbuhkembangkan budaya literasi tersebut adalah upaya menggalakkan kebiasaan (budaya) gemar membaca bagi peserta didik (di sekolah) dan bagi masyarakat.

Dengan demikian, menjadi paralel dengan ajakan pemerintah melalui mendikbud tentang pembiasaan (budaya) komunitas sekolah untuk membaca secara ringkas berdurasi lima belas menit setiap pagi hari di awal proses belajar; senyatanya jauh di alam bawah sadar sana, merupakan upaya dini untuk mencegah agar hoaks tidak mudah mempengaruhi masyarakat.

Kebiasaan gemar membaca merupakan strategi efektif berjangka panjang dalam menangkal ujaran kebencian dan informasi bohong. Melalui aktivitas membaca, peserta didik dan masyarakat luas berlatih untuk menyimak, menyerap, dan mengolah informasi secara kritis; termasuk di dalamnya adalah untuk melahirkan sikap skeptis atas informasi yang dibacanya. Dengan demikian nantinya akan terbentuk cara pandang (perspektif) dan wawasan yang luas; yang pada akhirnya nanti menjadi tidak mudah terseret oleh arus informasi bohong.

Sebagai bangsa dengan bonus demografi yang berlimpah, dengan besarnya jumlah angkatan muda dengan usianya yang produktif dan melek tekhnologi (internet) akan sangat efektif bila diperlengkapi dengan kebiasaan dan kemampuan literasi yang nantinya akan berdampak positif bagi kemajuan bangsanya; bukannya justru malah terjebak dalam lingkaran kebiasaan buruk ujaran kebencian dan hoaks yang kontra produktif.

Untuk itu,  perlu pemahaman dan keyakinan kolektif bahwa kegemaran membaca senyatanya merupakan bagian tak terpisahkan dari revolusi pendidikan mental yang perlu dikawal dan dimonitor secara konsisten dan berkelanjutan. Melalui aktivitas membaca, maka pola pikir, pola tindak, dan pola tutur masyarakat akan semakin luas, terang, bersih sehingga tidak mudah terprovokasi oleh aneka ujaran kebencian dan hoaks. Dengan demikian, bolehlah kita berbangga bahwa penguatan pendidikan karakter kita sebagai bangsa sudah tumbuh, berkembang dan mulai berbuah.

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *